Kamis, 22 Mei 2008

Pulsa HP

Barusan, aku nelpon ke HP temenku. Wew, (O_o) cuma bentar (2 menitan doang) udah habis 3000. Hweleh, fang sing sing. Memang sih aku waktu itu nelponnya pas jam kerja alias jam sibuk dan udah gitu nomer kita juga lintas alam operator, jadi nek tak pikir-pikir wajar juga harga segitu. Tapi kok menurutku gak ada kejelasan tarif ya? Aku merasa adanya ketidakjelasan tarif telepon untuk telekomunikasi selular di Indonesia yang lebih dikarenakan adanya perang tarif antar operator. Promo tarif mereka mungkin terlihat jelas dan ada di mana2, membanjiri tipi-tipi, koran, pinggir jalan, kafe meong, dsb (baik dari operator GSM/CDMA atau pun operator baru) tapi menurutku hal itu justru membuat masyarakat bingung (terutama buat mereka yang masih gaptek dan gak punya HP) iki ki maksudte opo to??!! (?.?)

Bagiku, tiap penyedia layanan telukomunikasi selular (provider, di sini disebut sebagai operator) di Indonesia benar-benar melakukan apa yang disebut dengan “perang”. Bukan cuma perang tarif, tapi bener-bener perang. Kok bisa? Yup, lha wong aku saja mau nelpon ke temenku buat konek aja butuh 15 menit. Begitu udah bisa konek, kena tarifnya mahal. Hweleh, sirik bener ya operatorku ama operator lain?! Tapi seumpama aku ngehubungi temenku yang sesama operator, busyet dah, koneknya gampang dan udah gitu biar pun nelponnya lama juga cuma kena pulsa dikiiiit. Gemes aku nek kaya gini, perang kok kebangetan, bener-bener sirik kalau udah yang namanya lintas operator atau operator. Kalau gini, aku sebagai konsumen alias pemakai jasa telekomunikasi selular ibarat pelanduk yang ada di tengah-tengah pertarungan gajah.

Kok waktu itu gak sms aja? Begini ceritanya, temenku pas itu gak punya pulsa (emang kapan ya dia punya pulsa?) jadi kalau pun aku sms dia, gak bakalan dibales dan saat itu juga aku emang gi bener-bener ada perlu ama dia. Sms alias short message service (buatku si, sms tu smile mailing service coz aku tiap sms suka bikin orang yang tak sms tu senyam-senyum ndiri dan temenku juga kalau sms aku juga kadang suka bikin aku senyam-senyum ndiri, hohoho) adalah layanan perpesanan via HP (dan tentu saja di dalamnya ada operator yang terlibat. Nek udah gitu, tau maksudnya kan?). Operator-operator layanan telekomunikasi selular bukan cuma perang tarif di sektor biaya telpon tapi di sektor sms mereka juga perang tarif, hweleh. Ada operator yang mromosiin paket sms, ada yang gratis ke sesama operator (tentunya dengan seabrek syarat dan ketentuan), ada yang bayar sesuai dengan banyak karakter yang kita pake dan lain sebagainya. Hwaduh, tambah mumet aku nek kon itung-itungan tarif koyo ngene. Fang sing sing. F@*^$*

Kalau aku saja ngerasa bingung dengan banyaknya tarif menyesatkan, aku yakin pasti di luar sana juga ada banyak orang selain aku yang bingung bin mumet. Kalau banyak orang yang merasa bingung, kenapa pemerintah justru diam saja dan membiarkan rakyatnya berada dalam kebingungan? Bukankah ini sudah menyagkut banyak orang? Apa kah pemerintah gak mau ambil pusing dengan itu karena pemerintah sendiri mendapat untung dari operator-operator yang ada? Kalau begitu, apa fungsi dan peran pemerintah? Apa pemerintah juga bakal diam saja dengan makin banyaknya operator selular yang masuk dari luar negeri dan menambah ruwet situasi perang tarif (seperti masuknya operator dari Australia)? Lalu di mana fungsi kontrol pemerintah? Apa kah pemerintah tidak menyadari rakyatnya semakin tenggelam di dalam kebingungan akibat perang tarif yang makin lama tambah parah? Berhubung telekomunikasi selular sudah menjadi kebutuhan bagi orang banyak, bukankah semestinya telekomunikasi selular juga diatur oleh pemerintah sama seperti halnya minyak (UUD tentang pengaturan hajat hidup orang banyak)?

Bonjour, coba kita melihat ke negara Prancis, negara yang dianggap sebagai pusat mode dunia. Di Prancis, pemerintahan Prancis benar-benar menjalankan fungsinya di bidang kontrol dan pengawasan. Di Prancis, telekomunikasi selular (sebagai hajat hidup orang banyak) benar-benar diatur dengan baik. Mulai dari bandwidth untuk layanan selular, siapa saja yang terlibat di dalam komunikasi selular sampai ke kontrol tarif. Di Prancis, hanya ada 4 operator selular. Pemerintah bertugas sebagai pembagi traffic komunikasi untuk tiap operator sehingga tiap operator memiliki banyak jalur traffic komunikasi yang sama. Untuk masalah tarif, tarif yang diberlakukan oleh tiap operator kepada semua pelanggannya adalah SAMA karena semua tarif diatur oleh pemerintah, baik itu tarif untuk sesama operator maupun lintas operator. Di sini, terlihat jelas fungsi pemerintah sebagai fungsi kontrol berjalan dengan baik sehingga tidak ada monopoli bandwidth dan tidak ada kebingungan masyarakat karena berbagai macam promo tentang tarif. Semua arus komunikasi selular pun berjalan dengan baik apakah itu antar sesama operator maupun lintas operator.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Apa kah bakal terjadi dengan apa yang disebut monopoli selular? Bisa iya,,bisa juga tidak. Semestinya pemerintah Indonesia sadar akan hal itu dan berusaha untuk menghilangkan kebingungan rakyatnya dengan angka-angka tarif yang harus dihapal (padahal kalau di ujian gak keluar, ngapain diapalin ya?). Well, dengan kenyataan seperti itu, aku berusaha untuk membantu lewat pemikiranku yang tertulis di blogku ini, jadi ada beberapa langkah sederhana dariku agar kita tidak terjebak dengan tarif yang menyesatkan.

Berikut ini ada sedikit tips dariku bagi pengguna jasa telekomunikasi selular dan semoga bermanfaat.
  1. Kita harus mengetahui gaya komunikasi selular kita, apakah lebih suka sms, telpon, browsing, dsb.
  2. Ketahui kekuatan kantong kita.
  3. Apa kah kita termasuk tipe bayar belakangan, bayar duluan, ato hemat dsb?
  4. Cari tahu keunggulan tiap operator mulai dari kekuatan dan jangkauan sinyal, tarif telpon, sms, MMS, GPRS, 3G, ketersediaan nominal voucher, masa aktif, dll.
  5. Pilih operator yang sesuai dengan tipe komunikasi selular kita dan kekuatan kantong kita, tentukan apakah kita akan menggunakan pra-bayar atau pasca-bayar.
  6. Berhati-hati lah terhadap setiap promo yang ada, banyak sekali terjadi penipuan yang terjadi di dunia komunikasi selular.
Selanjutnya, silakan berkomunikasi selular ria dan semoga perkembangan komunikasi selular di Indonesia jadi lebih baik dari waktu ke waktu. =)

Uang Koin

Kita pasti tahu apa yang dimaksud dengan uang koin. Yup, koin 100, 200, 500, dsb. Emang napa to? Ada apa dengan uang koin? Ada gosip uang koin palsu ya? Hohoho, bukan kok, bukan itu. Ada suatu pelajaran berarti yang bisa kita petik dari sebuah koin.

Misalkan aku pegang koin & aku hadepin gambar garudanya ke kamu. Menurutmu, berapa nilai uang koinnya? Bisa jadi 100, 200, atau pun 500,kan?! Kamu nebak kalau itu koin 100, padahal yang tak pegang tu koin 200. Salah kan? Jadi intinya begini, ketika misalkan kita melihat suatu kejadian atau peristiwa, jangan nge-judge sak klek bahwa peristiwa itu gini, bisa jadi kan makna sebenernya dari peristiwa itu gak seperti yang kita kira. Tiwas kita anggap jelek, ternyata sebenernya gak gitu. Jadi, jangan asal nge-judge.

Sikapi lah setiap kejadian dengan bijak, jangan cuma menilai dari satu sisi saja. Yup, pas tebak-tebakan uang koin, ada sisi lain yang gak kita tahu. Akibatnya, kita bisa salah mengintepretasikan sesuatu karena kita menilai bukan keseluruhan dari objek melainkan hanya sebagian kecil dari objek itu yang kita intepretasikan. Coba lah untuk lebih mempelajari segala sesuatu dengan lebih teliti. Masih ada sisi lain yang tidak kita tahu dari peristiwa itu. Selain itu juga masih ada sisi tipis dari uang koin yang bisa kita artikan sebagai abu-abu di antara hitam & putih, waria di antara pria & wanita. Minoritas memang, kecil kemungkinan untuk dilihat & disadari tetapi sebenarnya mereka ada di antara dua sisi uang koin itu (kita).

Jadi sebelum kita menilai sesuatu, cek dulu dari sisi yang lain, bisa aja beda kan?! Bijaksana lah dlm menyikapi, bertindak dsb. Okey? =)

Bangkit!!!

Setiap tanggal 20 Mei, rakyat Indonesia memperingati hari Kebangkitan Nasional. Tekad organisasi-organisasi pemuda/i untuk bangkit ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo. Peristiwa itu adalah salah satu momentum di mana rakyat Indonesia bertekad untuk mulai bangkit melawan penjajahan, untuk menjadi bangsa yang bebas dan merdeka. Itu terjadi seratus tahun yang lalu. Sekarang sudah seratus tahun sejak tanggal 20 Mei 2008, lalu apa makna dibalik seratus tahun peristiwa itu?

Pemerintah menetapkan bahwa setiap tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional. Mengapa demikian? Coba lah untuk menilik apa yang terjadi pada tanggal 20 Mei 1908, di situ terdapat nilai dan tekad untuk bangkit dan bersatu untuk terus berjuang demi kebebasan dari penjajahan. Jika kita memang memperingati hari kebangkitan nasional, bagaimana cara kita untuk memperingatinya?

Bagiku, peringatan hari kebangkitan nasional yang paling benar-benar terasa “kebangkitannya” terjadi 10 tahun yang lalu, tepatnya ketika Pak Harto menyatakan mundur dari jabatan presidenan setelah 30 tahun kekuasaannya. Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan menuntut agar Pak Harto mundur. Kenapa bisa ku katakan “kebangkitannya” terasa? Selama masa orde baru, kebebasan untuk berpendapat selalu dibayang-banyangi oleh pernyataan pemerintah, yang gak nurut pemerintah berarti musuh pemerintah dan harus masuk penjara. Ingat Iwan Fals? Dia menyatakan keterpurukan pemerintah dan bangsa ini lewat lagu-lagunya, menjadikan pemerintah marah padanya dan kemudian segera menangkap Iwan Fals untuk kemudian memasukkan Iwan Fals ke dalam penjara.

Rakyat Indonesia sendiri juga sudah cukup geram ketika seluruh aspirasi untuk kemajuan Indonesia seolah2 tidak pernah dianggap, lama-kelamaan rakyat pun bosan dan merasa bahwa kehidupan mereka telah dimonopoli. Hal itu semakin dikuatkan dengan pemberitaan tentang para wakil rakyat di Senayan yang juga cuma bisa tidur saat rapat. Mestinya pada saat rapat, para wakil rakyat di majelis menyampaikan aspirasi rakyat dan bukannya malah cuma tidur dan setuju-setuju saja dengan tiap pernyataan Presiden. Pernyataan “yang gak nurut pemerintah berarti musuh pemerintah dan harus masuk penjara” ternyata juga membuat para wakil rakyat tunduk. Belum lagi ditambah dengan pemerintah yang memberikan seabrek fasilitas kepada mereka, para wakil rakyat pun semakin tunduk pada pemerintah.

Puncak kegeraman terjadi dengan adanya aksi menduduki Senayan oleh ribuan mahasiswa. Mereka bangkit dari keterpurukan, mewakili seluruh rakyat Indonesia dan menuntut perubahan yang disebut dengan REFORMASI. Situasi yang terjadi saat itu hampir sama dengan zaman penjajahan dulu. Kalau dulu para pejuang kita berjuang melawan penjajah, saat itu para mahasiswa mewakili rakyat Indonesia berjuang melawan aparat pemerintah. Situasi yang terjadi pun tidak bisa dibedakan dengan perang.

Hasilnya, korban-korban berjatuhan dari semua pihak dan kemudian beberapa dari mereka dijuluki sebagai Pahlawan Reformasi. Perjuangan tidak berakhir sia-sia. MPR mendesak agar Pak Harto mundur dari jabatan dan Pak Harto pun kemudian mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Momen itu kemudian menjadikan peristiwa itu sebagai puncak reformasi. Tapi, apakah reformasi itu telah menunjukkan perubahan yang berarti sampai sekarang? Kalau menurutku, meskipun sekarang kita telah bebas untuk berpendapat, aku masih belum bisa merasakan angin perubahan yang terjadi. Kok bisa gitu ya?

Coba kita lihat apa yang terjadi pada Mei 98. Setelah Pak Harto mundur, rakyat langsung senang begitu mengetahui bahwa Pak Harto sudah tidak lagi berkuasa sehingga rakyat merasa bahwa perubahan pasti akan tercapai. Tapi, tunggu dulu! Euphoria akan kemunduran Pak Harto telah membuat seluruh rakyat lupa akan tujuan dari reformasi itu sendiri. Reformasi mestinya bukan hanya mengenai masalah mundurnya Pak Harto tapi juga mengenai perubahan struktur pemerintahan. Jika memang diinginkan perubahan, mestinya begitu Pak Harto mundur langsung diadakan pemilu, pemilu untuk menentukan wakil rakyat dan pejabat2 pemerintah yang baru (dengan demikian, akan tercipta struktur yang benar-benar baru) dan bukan hanya membiarkan kekuasaan Pak Harto berpindah tangan ke wakil presiden saat itu, B.J. Habibie. Itu sama saja dikatakan dengan penerusan kekuasaan Suharto oleh bawahannya. Tapi meskipun tujuan reformasi tidak tercapai dengan sempurna, buatku peristiwa itu adalah suatu kebangkitan yang luar biasa untuk melawan rezim orde baru.

Sekarang, seratus tahun sudah sejak hari kebangkitan nasional dan 10 tahun setelah turunnya Pak Harto. Apakah aku telah merasakan kebangkitan di rakyat Indonesia? Bagiku pribadi, aku tidak merasakan adanya kebangkitan. Kok bisa? Buatku, efek orde baru masih terasa di sebagian besar rakyat Indonesia. Yup, rakyat terlalu dimanja oleh pemerintahan orde baru sehingga meskipun reformasi telah terjadi, mental-mental orde baru masih ada. Mungkin kita harus mengadakan gerakan reformasi lagi yang berarti bakal ada pahlawan reformasi lagi demi terciptanya negara yang ideal. Jika memang kita telah siap dengan reformasi, kita mestinya sudah bisa mandiri dan tidak mau dimanja lagi. Dari pemberitaan di teletipi alias tipi-tipi, banyak demo menentang kenaikan BBM di hari kebangkitan nasional yang mengatasnamakan demi kebangkitan nasional. Well, menurutku kalau memang pengen bangkit, mestinya kita tidak melakukan itu. Itu sama saja dengan mental-mental manja bentukan orde baru. Kenaikan harga BBM sendiri adalah juga demi kelangsungan negara kita.

Kalau memang ingin reformasi ini benar-benar terasa perubahannya, mari kita singkirkan dulu sikap manja kita. Di hari Kebangkitan Nasional ini kita harus bangkit. Bangkit dari apa? Apa yang mestinya kita lakukan? Kita harus bangkit dari sikap manja yang membelenggu kita, kita jadikan momen hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momen untuk menjadikan kita lebih mandiri. Bangkit lah, Indonesiaku!! (o^_^o)v

Rabu, 21 Mei 2008

Antri BBM

19 Mei 2008, kira-kira jama 7 malam. Aku on the way ke kampus buat lembur (busyet dach, ngapain malem-malem lembur di kampus?!). Tapi ya begitu lah nasib mahasiswa yang kebagian tugas buat bikin server pake CentOS, udah resiko lembur apa lagi kalau dikejar-kejar deadline. Di tengah perjalananku yang pelan-pelan dan kunikmati, aku mampir di pom bensin Bukit Sari. Buat isi bensin lah, masa buat makan. Hohoho, lumrahnya, dari rumah ke kampusku yang terpencil itu butuh waktu paling lama (kalau pelan-pelan sambil menikmati jalan) tu kira-kira 15 menit. Kalau ngebut, 7 menit lah maximal.

Selama ngantri isi bensin, busyet, lebih lama daripada waktu perjalanku ke kampus…Hwarakadah. Apa gara-gara harga BBM di Indonesia mau dinaikin ya? Jadi orang-orang pada berbondong-bondong ke pom bensin sekarang biar bisa dapet BBM dengan harga lama alias harga sebelum dinaikkan? Melihat efek yang terjadi seperti itu, aku jadi teringat tentang pemberitaan-pemberitaan di tipi-tipi.

Di koran dan tipi-tipi, banyak pemberitaan tentang harga BBM yang bakal naik. Hmm, menurutku bagus juga kalau naik, sebab menurutku orang2 Indonesia itu terlalu dimanja dengan pemerintahan orde baru. Tapi ku akui, kalau dulu pemerintahan orde baru tidak melakukan itu, sekarang mungkin negara kita kita gak bakal bisa segede ini. Tapi sekarang dilemanya, BBM harus naik demi mengimbangi APBN dan demi kemajuan negeri ini sendiri. Padahal kalau ditelusuri, negara kita itu termasuk ke dalam kategori negara yang terlambat menaikkan harga BBM. (O_o)

Jadi, siapa yang bisa disalahkan kalau di mana-mana terjadi demo menentang kenaikan BBM? Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah salah pemerintah atau salah kita? Pemerintah bisa disalahkan bisa juga tidak. Menilik pada sejarah orde baru, BBM disubsidi pemerintah sampai semurah-murahnya. Hal itu dilakukan agar perkembangan ekonomi rakyat Indonesia (pada masa itu) bisa terus maju dan berkembang. Tapi, efek samping dari itu baru terasa saat ini. Rakyat saat ini dibebani dengan hutang masa lalu negara yang bertumpuk dan mengakibatkan APBN saat ini goyah.

Lalu, apakah kita juga salah kalau memprotes kenaikan BBM? Coba kita lihat ke diri kita masing-masing, apakah akibat yang terjadi pada diri kita akibat terlalu dimanja oleh orde baru? Kita jadi terbiasa untuk santai dan bahkan kita jadi marah ketika pemerintah berusaha untuk menstabilkan kondisi di negara ini dengan menaikkan BBM. Sebenarnya, kita harus menyikapi kenaikan BBM dengan bijak, toh itu juga demi kebaikan kita bersama. Karena kita sudah terbiasa dimanja, kita jadi kesulitan ketika kita harus mandiri tanpa menggantungkan pemerintah. Naiknya BBM adalah demi kebaikan kita bersama, agar APBN mampu berjalan seimbang dan pembangunan negeri kita tercinta ini bisa berjalan lancar. Amin. =)

Kalau aku, aku percaya dengan pemerintah bahwa pemerintah bisa mengembalikan stabilitas ekonomi meski pun aku sendiri juga secara tidak langsung nantinya bakal jadi korban dari kenaikan harga BBM yang berarti aku mau tidak mau harus mengatur pengeluaranku. Jadi, aku menyikapinya dengan cara paling sederhana, yaitu menabung. Biarlah BBM naik, toh itu juga demi kebaikan kita. Kita itu terlalu dimanja pemerintah, jadi aku menganggap itu sebagai suatu parodi ketika rakyat pada demo. Hwehe, coba direnungkan baik-baik hikmah dari kenaikan harga BBM ini. Apakah kita memang terlalu dimanja dulunya oleh pemerintah atau memang pemerintah yang sudah salah dari dulunya?

Well, itu lah situasi yang sedang terjadi pada negari kita dan aku pun harus antri lama buat beli bensin 15000. Setelah aku isi bensin, aku pun segera ke kampus (itung-itung off-road malem-malem, wkwkwk). Sampai kampus, yang ada juga kopyor semua ni pikiran, fang sing sing…Piye carane nggawe server???!!!! F^^#%*&AD **

Dibayari Pak Kawi

18 Mei 2008, aku makan malam dengan keluarga besar papaku. Keluarga pakdeku (Pakde Nur Sasongko) datang dari Yogya dan mau pulang malamnya, jadi ortuku berinisiatif buat ngajak dinner sebelum mereka pulang ke Jogja. Ortu bertanya padaku,”Mau dinner di mana? ”. ”Rumah makan Ikan Bakar Cianjur”,jawabku.

Sampai di sana jam 7 malam, kami pun segera memesan makanan. Setelah selesai memesan makanan, papaku kemudian melihat-lihat sebentar dan melihat ada Pak Sukawi Sutarip, walikota Semarang yang sekarang sedang mencalonkan diri buat jadi Gubernur Jawa Tengah, duduk di meja belakang. Papaku kemudian menyapa Pak Kawi. Bisa dibilang kalau papaku tu semacam rekan kerja karena papaku sering terlibat dengan bagian kehumasan berbagai instansi pemerintah.

Bersamaan dengan selesainya kami makan, Pak Kawi pun juga sudah selesai menyatap hidangan makan malamnya. Setelah selesai makan, kami pun hendak membayar tagihan di kasir. Sesaat sebelum membayar, papaku bercengkerama sebentar dengan Pak Kawi, biasa lah, percakapan “say hai”. Pas mau bayar, ternyata aku dan sekeluarga (besar) dibayari sama Pak Kawi. Hweleh, beneran nie? Gak nyangka kalau kita bakal dibyari. Hohoho.

Tapi aku kemudian teringat dengan Pilkada alias pemilihan kepala daerah. Aku yakin Pak Kawi mbayari kita karena dia secara gak langsung pengen kita nyoblos beliau saat pemilihan Gubernur Jawa tengah nantinya. Biasa lah, strategi politik (pake “pelicin”). Tapi kejadian ini benar-benar membuatku geli. Hwehehe, Pak Kawi gak tau kalau sebenernya papaku adalah tim sukses buat Bambang Sadono, saingan Pak Kawi di Pilkada nanti dan mamaku juga tim sukses Bibit-Rustri. Wkwkwk, terkadang parodi yang terjadi memang lucu tapi bisa dibilang “menyedihkan” di lain pihak. Meski pun demikian, berbagai cara ditempuh oleh semua calon buat ngedapetin suara tanpa memperhatikan parodi yang terjadi di situ. Hohoho, sukses aja lah buat semua calon, menang kalah sama saja asalkan selalu memberikan yang terbaik demi negeri ini. =)

Selesai dinner, aku kebagian tugas buat nganter keluarga pakdeku ke agen bus Joglosemar di Srondol. Well, hati-hati di jalan,pakde. Kapan-kapan maen ke Semarang lagi ya. =)

Kamis, 15 Mei 2008

Welcome 2 my bLog

Yippie, akhirnya kesampaian juga buat bikin blog. (^^.)
Dengan banyaknya kegiatanku (kuliah, ngeband, baca buku, nongkrong-nongkrong gak penting, makan, bobo, dsb), I feel so great when i made it. (o^.^o)