Barusan, aku nelpon ke HP temenku. Wew, (O_o) cuma bentar (2 menitan doang) udah habis 3000. Hweleh, fang sing sing. Memang sih aku waktu itu nelponnya pas jam kerja alias jam sibuk dan udah gitu nomer kita juga lintas alam operator, jadi nek tak pikir-pikir wajar juga harga segitu. Tapi kok menurutku gak ada kejelasan tarif ya? Aku merasa adanya ketidakjelasan tarif telepon untuk telekomunikasi selular di Indonesia yang lebih dikarenakan adanya perang tarif antar operator. Promo tarif mereka mungkin terlihat jelas dan ada di mana2, membanjiri tipi-tipi, koran, pinggir jalan, kafe meong, dsb (baik dari operator GSM/CDMA atau pun operator baru) tapi menurutku hal itu justru membuat masyarakat bingung (terutama buat mereka yang masih gaptek dan gak punya HP) iki ki maksudte opo to??!! (?.?)
Bagiku, tiap penyedia layanan telukomunikasi selular (provider, di sini disebut sebagai operator) di Indonesia benar-benar melakukan apa yang disebut dengan “perang”. Bukan cuma perang tarif, tapi bener-bener perang. Kok bisa? Yup, lha wong aku saja mau nelpon ke temenku buat konek aja butuh 15 menit. Begitu udah bisa konek, kena tarifnya mahal. Hweleh, sirik bener ya operatorku ama operator lain?! Tapi seumpama aku ngehubungi temenku yang sesama operator, busyet dah, koneknya gampang dan udah gitu biar pun nelponnya lama juga cuma kena pulsa dikiiiit. Gemes aku nek kaya gini, perang kok kebangetan, bener-bener sirik kalau udah yang namanya lintas operator atau operator. Kalau gini, aku sebagai konsumen alias pemakai jasa telekomunikasi selular ibarat pelanduk yang ada di tengah-tengah pertarungan gajah.
Kok waktu itu gak sms aja? Begini ceritanya, temenku pas itu gak punya pulsa (emang kapan ya dia punya pulsa?) jadi kalau pun aku sms dia, gak bakalan dibales dan saat itu juga aku emang gi bener-bener ada perlu ama dia. Sms alias short message service (buatku si, sms tu smile mailing service coz aku tiap sms suka bikin orang yang tak sms tu senyam-senyum ndiri dan temenku juga kalau sms aku juga kadang suka bikin aku senyam-senyum ndiri, hohoho) adalah layanan perpesanan via HP (dan tentu saja di dalamnya ada operator yang terlibat. Nek udah gitu, tau maksudnya kan?). Operator-operator layanan telekomunikasi selular bukan cuma perang tarif di sektor biaya telpon tapi di sektor sms mereka juga perang tarif, hweleh. Ada operator yang mromosiin paket sms, ada yang gratis ke sesama operator (tentunya dengan seabrek syarat dan ketentuan), ada yang bayar sesuai dengan banyak karakter yang kita pake dan lain sebagainya. Hwaduh, tambah mumet aku nek kon itung-itungan tarif koyo ngene. Fang sing sing. F@*^$*
Kalau aku saja ngerasa bingung dengan banyaknya tarif menyesatkan, aku yakin pasti di luar sana juga ada banyak orang selain aku yang bingung bin mumet. Kalau banyak orang yang merasa bingung, kenapa pemerintah justru diam saja dan membiarkan rakyatnya berada dalam kebingungan? Bukankah ini sudah menyagkut banyak orang? Apa kah pemerintah gak mau ambil pusing dengan itu karena pemerintah sendiri mendapat untung dari operator-operator yang ada? Kalau begitu, apa fungsi dan peran pemerintah? Apa pemerintah juga bakal diam saja dengan makin banyaknya operator selular yang masuk dari luar negeri dan menambah ruwet situasi perang tarif (seperti masuknya operator dari Australia)? Lalu di mana fungsi kontrol pemerintah? Apa kah pemerintah tidak menyadari rakyatnya semakin tenggelam di dalam kebingungan akibat perang tarif yang makin lama tambah parah? Berhubung telekomunikasi selular sudah menjadi kebutuhan bagi orang banyak, bukankah semestinya telekomunikasi selular juga diatur oleh pemerintah sama seperti halnya minyak (UUD tentang pengaturan hajat hidup orang banyak)?
Bonjour, coba kita melihat ke negara Prancis, negara yang dianggap sebagai pusat mode dunia. Di Prancis, pemerintahan Prancis benar-benar menjalankan fungsinya di bidang kontrol dan pengawasan. Di Prancis, telekomunikasi selular (sebagai hajat hidup orang banyak) benar-benar diatur dengan baik. Mulai dari bandwidth untuk layanan selular, siapa saja yang terlibat di dalam komunikasi selular sampai ke kontrol tarif. Di Prancis, hanya ada 4 operator selular. Pemerintah bertugas sebagai pembagi traffic komunikasi untuk tiap operator sehingga tiap operator memiliki banyak jalur traffic komunikasi yang sama. Untuk masalah tarif, tarif yang diberlakukan oleh tiap operator kepada semua pelanggannya adalah SAMA karena semua tarif diatur oleh pemerintah, baik itu tarif untuk sesama operator maupun lintas operator. Di sini, terlihat jelas fungsi pemerintah sebagai fungsi kontrol berjalan dengan baik sehingga tidak ada monopoli bandwidth dan tidak ada kebingungan masyarakat karena berbagai macam promo tentang tarif. Semua arus komunikasi selular pun berjalan dengan baik apakah itu antar sesama operator maupun lintas operator.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Apa kah bakal terjadi dengan apa yang disebut monopoli selular? Bisa iya,,bisa juga tidak. Semestinya pemerintah Indonesia sadar akan hal itu dan berusaha untuk menghilangkan kebingungan rakyatnya dengan angka-angka tarif yang harus dihapal (padahal kalau di ujian gak keluar, ngapain diapalin ya?). Well, dengan kenyataan seperti itu, aku berusaha untuk membantu lewat pemikiranku yang tertulis di blogku ini, jadi ada beberapa langkah sederhana dariku agar kita tidak terjebak dengan tarif yang menyesatkan.
Berikut ini ada sedikit tips dariku bagi pengguna jasa telekomunikasi selular dan semoga bermanfaat.
- Kita harus mengetahui gaya komunikasi selular kita, apakah lebih suka sms, telpon, browsing, dsb.
- Ketahui kekuatan kantong kita.
- Apa kah kita termasuk tipe bayar belakangan, bayar duluan, ato hemat dsb?
- Cari tahu keunggulan tiap operator mulai dari kekuatan dan jangkauan sinyal, tarif telpon, sms, MMS, GPRS, 3G, ketersediaan nominal voucher, masa aktif, dll.
- Pilih operator yang sesuai dengan tipe komunikasi selular kita dan kekuatan kantong kita, tentukan apakah kita akan menggunakan pra-bayar atau pasca-bayar.
- Berhati-hati lah terhadap setiap promo yang ada, banyak sekali terjadi penipuan yang terjadi di dunia komunikasi selular.
Selanjutnya, silakan berkomunikasi selular ria dan semoga perkembangan komunikasi selular di Indonesia jadi lebih baik dari waktu ke waktu. =)

