19 Mei 2008, kira-kira jama 7 malam. Aku on the way ke kampus buat lembur (busyet dach, ngapain malem-malem lembur di kampus?!). Tapi ya begitu lah nasib mahasiswa yang kebagian tugas buat bikin server pake CentOS, udah resiko lembur apa lagi kalau dikejar-kejar deadline. Di tengah perjalananku yang pelan-pelan dan kunikmati, aku mampir di pom bensin Bukit Sari. Buat isi bensin lah, masa buat makan. Hohoho, lumrahnya, dari rumah ke kampusku yang terpencil itu butuh waktu paling lama (kalau pelan-pelan sambil menikmati jalan) tu kira-kira 15 menit. Kalau ngebut, 7 menit lah maximal.
Selama ngantri isi bensin, busyet, lebih lama daripada waktu perjalanku ke kampus…Hwarakadah. Apa gara-gara harga BBM di Indonesia mau dinaikin ya? Jadi orang-orang pada berbondong-bondong ke pom bensin sekarang biar bisa dapet BBM dengan harga lama alias harga sebelum dinaikkan? Melihat efek yang terjadi seperti itu, aku jadi teringat tentang pemberitaan-pemberitaan di tipi-tipi.
Di koran dan tipi-tipi, banyak pemberitaan tentang harga BBM yang bakal naik. Hmm, menurutku bagus juga kalau naik, sebab menurutku orang2 Indonesia itu terlalu dimanja dengan pemerintahan orde baru. Tapi ku akui, kalau dulu pemerintahan orde baru tidak melakukan itu, sekarang mungkin negara kita kita gak bakal bisa segede ini. Tapi sekarang dilemanya, BBM harus naik demi mengimbangi APBN dan demi kemajuan negeri ini sendiri. Padahal kalau ditelusuri, negara kita itu termasuk ke dalam kategori negara yang terlambat menaikkan harga BBM. (O_o)
Jadi, siapa yang bisa disalahkan kalau di mana-mana terjadi demo menentang kenaikan BBM? Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah salah pemerintah atau salah kita? Pemerintah bisa disalahkan bisa juga tidak. Menilik pada sejarah orde baru, BBM disubsidi pemerintah sampai semurah-murahnya. Hal itu dilakukan agar perkembangan ekonomi rakyat Indonesia (pada masa itu) bisa terus maju dan berkembang. Tapi, efek samping dari itu baru terasa saat ini. Rakyat saat ini dibebani dengan hutang masa lalu negara yang bertumpuk dan mengakibatkan APBN saat ini goyah.
Lalu, apakah kita juga salah kalau memprotes kenaikan BBM? Coba kita lihat ke diri kita masing-masing, apakah akibat yang terjadi pada diri kita akibat terlalu dimanja oleh orde baru? Kita jadi terbiasa untuk santai dan bahkan kita jadi marah ketika pemerintah berusaha untuk menstabilkan kondisi di negara ini dengan menaikkan BBM. Sebenarnya, kita harus menyikapi kenaikan BBM dengan bijak, toh itu juga demi kebaikan kita bersama. Karena kita sudah terbiasa dimanja, kita jadi kesulitan ketika kita harus mandiri tanpa menggantungkan pemerintah. Naiknya BBM adalah demi kebaikan kita bersama, agar APBN mampu berjalan seimbang dan pembangunan negeri kita tercinta ini bisa berjalan lancar. Amin. =)
Kalau aku, aku percaya dengan pemerintah bahwa pemerintah bisa mengembalikan stabilitas ekonomi meski pun aku sendiri juga secara tidak langsung nantinya bakal jadi korban dari kenaikan harga BBM yang berarti aku mau tidak mau harus mengatur pengeluaranku. Jadi, aku menyikapinya dengan cara paling sederhana, yaitu menabung. Biarlah BBM naik, toh itu juga demi kebaikan kita. Kita itu terlalu dimanja pemerintah, jadi aku menganggap itu sebagai suatu parodi ketika rakyat pada demo. Hwehe, coba direnungkan baik-baik hikmah dari kenaikan harga BBM ini. Apakah kita memang terlalu dimanja dulunya oleh pemerintah atau memang pemerintah yang sudah salah dari dulunya?
Well, itu lah situasi yang sedang terjadi pada negari kita dan aku pun harus antri lama buat beli bensin 15000. Setelah aku isi bensin, aku pun segera ke kampus (itung-itung off-road malem-malem, wkwkwk). Sampai kampus, yang ada juga kopyor semua ni pikiran, fang sing sing…Piye carane nggawe server???!!!! F^^#%*&AD **
Selama ngantri isi bensin, busyet, lebih lama daripada waktu perjalanku ke kampus…Hwarakadah. Apa gara-gara harga BBM di Indonesia mau dinaikin ya? Jadi orang-orang pada berbondong-bondong ke pom bensin sekarang biar bisa dapet BBM dengan harga lama alias harga sebelum dinaikkan? Melihat efek yang terjadi seperti itu, aku jadi teringat tentang pemberitaan-pemberitaan di tipi-tipi.
Di koran dan tipi-tipi, banyak pemberitaan tentang harga BBM yang bakal naik. Hmm, menurutku bagus juga kalau naik, sebab menurutku orang2 Indonesia itu terlalu dimanja dengan pemerintahan orde baru. Tapi ku akui, kalau dulu pemerintahan orde baru tidak melakukan itu, sekarang mungkin negara kita kita gak bakal bisa segede ini. Tapi sekarang dilemanya, BBM harus naik demi mengimbangi APBN dan demi kemajuan negeri ini sendiri. Padahal kalau ditelusuri, negara kita itu termasuk ke dalam kategori negara yang terlambat menaikkan harga BBM. (O_o)
Jadi, siapa yang bisa disalahkan kalau di mana-mana terjadi demo menentang kenaikan BBM? Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah salah pemerintah atau salah kita? Pemerintah bisa disalahkan bisa juga tidak. Menilik pada sejarah orde baru, BBM disubsidi pemerintah sampai semurah-murahnya. Hal itu dilakukan agar perkembangan ekonomi rakyat Indonesia (pada masa itu) bisa terus maju dan berkembang. Tapi, efek samping dari itu baru terasa saat ini. Rakyat saat ini dibebani dengan hutang masa lalu negara yang bertumpuk dan mengakibatkan APBN saat ini goyah.
Lalu, apakah kita juga salah kalau memprotes kenaikan BBM? Coba kita lihat ke diri kita masing-masing, apakah akibat yang terjadi pada diri kita akibat terlalu dimanja oleh orde baru? Kita jadi terbiasa untuk santai dan bahkan kita jadi marah ketika pemerintah berusaha untuk menstabilkan kondisi di negara ini dengan menaikkan BBM. Sebenarnya, kita harus menyikapi kenaikan BBM dengan bijak, toh itu juga demi kebaikan kita bersama. Karena kita sudah terbiasa dimanja, kita jadi kesulitan ketika kita harus mandiri tanpa menggantungkan pemerintah. Naiknya BBM adalah demi kebaikan kita bersama, agar APBN mampu berjalan seimbang dan pembangunan negeri kita tercinta ini bisa berjalan lancar. Amin. =)
Kalau aku, aku percaya dengan pemerintah bahwa pemerintah bisa mengembalikan stabilitas ekonomi meski pun aku sendiri juga secara tidak langsung nantinya bakal jadi korban dari kenaikan harga BBM yang berarti aku mau tidak mau harus mengatur pengeluaranku. Jadi, aku menyikapinya dengan cara paling sederhana, yaitu menabung. Biarlah BBM naik, toh itu juga demi kebaikan kita. Kita itu terlalu dimanja pemerintah, jadi aku menganggap itu sebagai suatu parodi ketika rakyat pada demo. Hwehe, coba direnungkan baik-baik hikmah dari kenaikan harga BBM ini. Apakah kita memang terlalu dimanja dulunya oleh pemerintah atau memang pemerintah yang sudah salah dari dulunya?
Well, itu lah situasi yang sedang terjadi pada negari kita dan aku pun harus antri lama buat beli bensin 15000. Setelah aku isi bensin, aku pun segera ke kampus (itung-itung off-road malem-malem, wkwkwk). Sampai kampus, yang ada juga kopyor semua ni pikiran, fang sing sing…Piye carane nggawe server???!!!! F^^#%*&AD **


Tidak ada komentar:
Posting Komentar