Setiap tanggal 20 Mei, rakyat Indonesia memperingati hari Kebangkitan Nasional. Tekad organisasi-organisasi pemuda/i untuk bangkit ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo. Peristiwa itu adalah salah satu momentum di mana rakyat Indonesia bertekad untuk mulai bangkit melawan penjajahan, untuk menjadi bangsa yang bebas dan merdeka. Itu terjadi seratus tahun yang lalu. Sekarang sudah seratus tahun sejak tanggal 20 Mei 2008, lalu apa makna dibalik seratus tahun peristiwa itu?
Pemerintah menetapkan bahwa setiap tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional. Mengapa demikian? Coba lah untuk menilik apa yang terjadi pada tanggal 20 Mei 1908, di situ terdapat nilai dan tekad untuk bangkit dan bersatu untuk terus berjuang demi kebebasan dari penjajahan. Jika kita memang memperingati hari kebangkitan nasional, bagaimana cara kita untuk memperingatinya?
Bagiku, peringatan hari kebangkitan nasional yang paling benar-benar terasa “kebangkitannya” terjadi 10 tahun yang lalu, tepatnya ketika Pak Harto menyatakan mundur dari jabatan presidenan setelah 30 tahun kekuasaannya. Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan menuntut agar Pak Harto mundur. Kenapa bisa ku katakan “kebangkitannya” terasa? Selama masa orde baru, kebebasan untuk berpendapat selalu dibayang-banyangi oleh pernyataan pemerintah, yang gak nurut pemerintah berarti musuh pemerintah dan harus masuk penjara. Ingat Iwan Fals? Dia menyatakan keterpurukan pemerintah dan bangsa ini lewat lagu-lagunya, menjadikan pemerintah marah padanya dan kemudian segera menangkap Iwan Fals untuk kemudian memasukkan Iwan Fals ke dalam penjara.
Rakyat Indonesia sendiri juga sudah cukup geram ketika seluruh aspirasi untuk kemajuan Indonesia seolah2 tidak pernah dianggap, lama-kelamaan rakyat pun bosan dan merasa bahwa kehidupan mereka telah dimonopoli. Hal itu semakin dikuatkan dengan pemberitaan tentang para wakil rakyat di Senayan yang juga cuma bisa tidur saat rapat. Mestinya pada saat rapat, para wakil rakyat di majelis menyampaikan aspirasi rakyat dan bukannya malah cuma tidur dan setuju-setuju saja dengan tiap pernyataan Presiden. Pernyataan “yang gak nurut pemerintah berarti musuh pemerintah dan harus masuk penjara” ternyata juga membuat para wakil rakyat tunduk. Belum lagi ditambah dengan pemerintah yang memberikan seabrek fasilitas kepada mereka, para wakil rakyat pun semakin tunduk pada pemerintah.
Puncak kegeraman terjadi dengan adanya aksi menduduki Senayan oleh ribuan mahasiswa. Mereka bangkit dari keterpurukan, mewakili seluruh rakyat Indonesia dan menuntut perubahan yang disebut dengan REFORMASI. Situasi yang terjadi saat itu hampir sama dengan zaman penjajahan dulu. Kalau dulu para pejuang kita berjuang melawan penjajah, saat itu para mahasiswa mewakili rakyat Indonesia berjuang melawan aparat pemerintah. Situasi yang terjadi pun tidak bisa dibedakan dengan perang.
Hasilnya, korban-korban berjatuhan dari semua pihak dan kemudian beberapa dari mereka dijuluki sebagai Pahlawan Reformasi. Perjuangan tidak berakhir sia-sia. MPR mendesak agar Pak Harto mundur dari jabatan dan Pak Harto pun kemudian mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Momen itu kemudian menjadikan peristiwa itu sebagai puncak reformasi. Tapi, apakah reformasi itu telah menunjukkan perubahan yang berarti sampai sekarang? Kalau menurutku, meskipun sekarang kita telah bebas untuk berpendapat, aku masih belum bisa merasakan angin perubahan yang terjadi. Kok bisa gitu ya?
Coba kita lihat apa yang terjadi pada Mei 98. Setelah Pak Harto mundur, rakyat langsung senang begitu mengetahui bahwa Pak Harto sudah tidak lagi berkuasa sehingga rakyat merasa bahwa perubahan pasti akan tercapai. Tapi, tunggu dulu! Euphoria akan kemunduran Pak Harto telah membuat seluruh rakyat lupa akan tujuan dari reformasi itu sendiri. Reformasi mestinya bukan hanya mengenai masalah mundurnya Pak Harto tapi juga mengenai perubahan struktur pemerintahan. Jika memang diinginkan perubahan, mestinya begitu Pak Harto mundur langsung diadakan pemilu, pemilu untuk menentukan wakil rakyat dan pejabat2 pemerintah yang baru (dengan demikian, akan tercipta struktur yang benar-benar baru) dan bukan hanya membiarkan kekuasaan Pak Harto berpindah tangan ke wakil presiden saat itu, B.J. Habibie. Itu sama saja dikatakan dengan penerusan kekuasaan Suharto oleh bawahannya. Tapi meskipun tujuan reformasi tidak tercapai dengan sempurna, buatku peristiwa itu adalah suatu kebangkitan yang luar biasa untuk melawan rezim orde baru.
Sekarang, seratus tahun sudah sejak hari kebangkitan nasional dan 10 tahun setelah turunnya Pak Harto. Apakah aku telah merasakan kebangkitan di rakyat Indonesia? Bagiku pribadi, aku tidak merasakan adanya kebangkitan. Kok bisa? Buatku, efek orde baru masih terasa di sebagian besar rakyat Indonesia. Yup, rakyat terlalu dimanja oleh pemerintahan orde baru sehingga meskipun reformasi telah terjadi, mental-mental orde baru masih ada. Mungkin kita harus mengadakan gerakan reformasi lagi yang berarti bakal ada pahlawan reformasi lagi demi terciptanya negara yang ideal. Jika memang kita telah siap dengan reformasi, kita mestinya sudah bisa mandiri dan tidak mau dimanja lagi. Dari pemberitaan di teletipi alias tipi-tipi, banyak demo menentang kenaikan BBM di hari kebangkitan nasional yang mengatasnamakan demi kebangkitan nasional. Well, menurutku kalau memang pengen bangkit, mestinya kita tidak melakukan itu. Itu sama saja dengan mental-mental manja bentukan orde baru. Kenaikan harga BBM sendiri adalah juga demi kelangsungan negara kita.
Kalau memang ingin reformasi ini benar-benar terasa perubahannya, mari kita singkirkan dulu sikap manja kita. Di hari Kebangkitan Nasional ini kita harus bangkit. Bangkit dari apa? Apa yang mestinya kita lakukan? Kita harus bangkit dari sikap manja yang membelenggu kita, kita jadikan momen hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momen untuk menjadikan kita lebih mandiri. Bangkit lah, Indonesiaku!! (o^_^o)v
Pemerintah menetapkan bahwa setiap tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional. Mengapa demikian? Coba lah untuk menilik apa yang terjadi pada tanggal 20 Mei 1908, di situ terdapat nilai dan tekad untuk bangkit dan bersatu untuk terus berjuang demi kebebasan dari penjajahan. Jika kita memang memperingati hari kebangkitan nasional, bagaimana cara kita untuk memperingatinya?
Bagiku, peringatan hari kebangkitan nasional yang paling benar-benar terasa “kebangkitannya” terjadi 10 tahun yang lalu, tepatnya ketika Pak Harto menyatakan mundur dari jabatan presidenan setelah 30 tahun kekuasaannya. Ribuan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan menuntut agar Pak Harto mundur. Kenapa bisa ku katakan “kebangkitannya” terasa? Selama masa orde baru, kebebasan untuk berpendapat selalu dibayang-banyangi oleh pernyataan pemerintah, yang gak nurut pemerintah berarti musuh pemerintah dan harus masuk penjara. Ingat Iwan Fals? Dia menyatakan keterpurukan pemerintah dan bangsa ini lewat lagu-lagunya, menjadikan pemerintah marah padanya dan kemudian segera menangkap Iwan Fals untuk kemudian memasukkan Iwan Fals ke dalam penjara.
Rakyat Indonesia sendiri juga sudah cukup geram ketika seluruh aspirasi untuk kemajuan Indonesia seolah2 tidak pernah dianggap, lama-kelamaan rakyat pun bosan dan merasa bahwa kehidupan mereka telah dimonopoli. Hal itu semakin dikuatkan dengan pemberitaan tentang para wakil rakyat di Senayan yang juga cuma bisa tidur saat rapat. Mestinya pada saat rapat, para wakil rakyat di majelis menyampaikan aspirasi rakyat dan bukannya malah cuma tidur dan setuju-setuju saja dengan tiap pernyataan Presiden. Pernyataan “yang gak nurut pemerintah berarti musuh pemerintah dan harus masuk penjara” ternyata juga membuat para wakil rakyat tunduk. Belum lagi ditambah dengan pemerintah yang memberikan seabrek fasilitas kepada mereka, para wakil rakyat pun semakin tunduk pada pemerintah.
Puncak kegeraman terjadi dengan adanya aksi menduduki Senayan oleh ribuan mahasiswa. Mereka bangkit dari keterpurukan, mewakili seluruh rakyat Indonesia dan menuntut perubahan yang disebut dengan REFORMASI. Situasi yang terjadi saat itu hampir sama dengan zaman penjajahan dulu. Kalau dulu para pejuang kita berjuang melawan penjajah, saat itu para mahasiswa mewakili rakyat Indonesia berjuang melawan aparat pemerintah. Situasi yang terjadi pun tidak bisa dibedakan dengan perang.
Hasilnya, korban-korban berjatuhan dari semua pihak dan kemudian beberapa dari mereka dijuluki sebagai Pahlawan Reformasi. Perjuangan tidak berakhir sia-sia. MPR mendesak agar Pak Harto mundur dari jabatan dan Pak Harto pun kemudian mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Momen itu kemudian menjadikan peristiwa itu sebagai puncak reformasi. Tapi, apakah reformasi itu telah menunjukkan perubahan yang berarti sampai sekarang? Kalau menurutku, meskipun sekarang kita telah bebas untuk berpendapat, aku masih belum bisa merasakan angin perubahan yang terjadi. Kok bisa gitu ya?
Coba kita lihat apa yang terjadi pada Mei 98. Setelah Pak Harto mundur, rakyat langsung senang begitu mengetahui bahwa Pak Harto sudah tidak lagi berkuasa sehingga rakyat merasa bahwa perubahan pasti akan tercapai. Tapi, tunggu dulu! Euphoria akan kemunduran Pak Harto telah membuat seluruh rakyat lupa akan tujuan dari reformasi itu sendiri. Reformasi mestinya bukan hanya mengenai masalah mundurnya Pak Harto tapi juga mengenai perubahan struktur pemerintahan. Jika memang diinginkan perubahan, mestinya begitu Pak Harto mundur langsung diadakan pemilu, pemilu untuk menentukan wakil rakyat dan pejabat2 pemerintah yang baru (dengan demikian, akan tercipta struktur yang benar-benar baru) dan bukan hanya membiarkan kekuasaan Pak Harto berpindah tangan ke wakil presiden saat itu, B.J. Habibie. Itu sama saja dikatakan dengan penerusan kekuasaan Suharto oleh bawahannya. Tapi meskipun tujuan reformasi tidak tercapai dengan sempurna, buatku peristiwa itu adalah suatu kebangkitan yang luar biasa untuk melawan rezim orde baru.
Sekarang, seratus tahun sudah sejak hari kebangkitan nasional dan 10 tahun setelah turunnya Pak Harto. Apakah aku telah merasakan kebangkitan di rakyat Indonesia? Bagiku pribadi, aku tidak merasakan adanya kebangkitan. Kok bisa? Buatku, efek orde baru masih terasa di sebagian besar rakyat Indonesia. Yup, rakyat terlalu dimanja oleh pemerintahan orde baru sehingga meskipun reformasi telah terjadi, mental-mental orde baru masih ada. Mungkin kita harus mengadakan gerakan reformasi lagi yang berarti bakal ada pahlawan reformasi lagi demi terciptanya negara yang ideal. Jika memang kita telah siap dengan reformasi, kita mestinya sudah bisa mandiri dan tidak mau dimanja lagi. Dari pemberitaan di teletipi alias tipi-tipi, banyak demo menentang kenaikan BBM di hari kebangkitan nasional yang mengatasnamakan demi kebangkitan nasional. Well, menurutku kalau memang pengen bangkit, mestinya kita tidak melakukan itu. Itu sama saja dengan mental-mental manja bentukan orde baru. Kenaikan harga BBM sendiri adalah juga demi kelangsungan negara kita.
Kalau memang ingin reformasi ini benar-benar terasa perubahannya, mari kita singkirkan dulu sikap manja kita. Di hari Kebangkitan Nasional ini kita harus bangkit. Bangkit dari apa? Apa yang mestinya kita lakukan? Kita harus bangkit dari sikap manja yang membelenggu kita, kita jadikan momen hari Kebangkitan Nasional ini sebagai momen untuk menjadikan kita lebih mandiri. Bangkit lah, Indonesiaku!! (o^_^o)v


Tidak ada komentar:
Posting Komentar