Rabu, 25 Juni 2008

KPPU Menyikapi Kartel Tarif SMS

19 Juni 2008, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menyatakan bahwa 6 operator seluler di Indonesia telah merugikan masyarakat dengan melakukan penyetaraan tarif sms yang menjadikan harga sms jauh lebih mahal dari harga sms seharusnya (kartel). Saat ini, masyarakat dikenakan tarif antara Rp.100,00 sampai Rp.150,00 per sms. Harga ini jauh lebih mahal dari tarif sms yang mestinya hanya Rp.75,00. Dengan demikian, operator-operator seluler tersebut dinilai telah merugikan masyarakat demi keuntungan perusahaan.

Penyeragaman tarif tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan para operator seluler sejak tahun 2004 dan sampai artikel ini ditulis, keseragaman tarif tersebut masih berlangsung. Pada saat kesepakatan tarif sms mulai diberlakukan, terlihat seolah-olah bahwa tidak akan ada lagi tarif mahal yang membebani konsumen. Namun ketika KPPU menyatakan bahwa kartel telah merugikan masyarakat, mulai terlihat bahwa selama ini penyeragaman tersebut hanya lah kedok belaka, kedok agar seolah-olah tidak ada masyarakat yang dirugikan. Dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang telekomunikasi seluler, para operator seluler benar-benar meraup keuntungan besar.

Apakah hal tersebut bisa diartikan sebagai salah satu bentuk penjajahan modern? Jika kita melihat bahwa penyedia layanan seluler di Indonesia kebanyakan adalah perusahaan asing yang dimiliki oleh para investor dari luar negeri dan dengan ketidak tahuaan masyarakat tentang telekomunikasi, kesepakatan penyeragaman tarif tersebut bisa dikatakan telah “menjajah” masyarakat, termasuk diriku.

Jika memang demikian, kenapa kita dan pihak pemerintah terutama tidak menyadari hal tersebut? Mungkin ini dikarenakan kurangnya sosialiasi tentang tarif telekomunikasi di Indonesia yang menyebabkan masyarakat menggangap bahwa itu adalah wajar sehingga tidak ada keluhan terhadap pemerintah. Lalu, apakah tidak ada pengawasan dan kontrol dari pihak pemerintah untuk bidang telekomunikasi mengingat bahwa telekomunikasi sekarang telah menjadi hajat hidup orang banyak sama seperti halnya BBM?

Lalu jika memang telah ada kesepakatan penyeragaman tarif yang dilakukan oleh para operator seluler, kenapa 2 tahun belakangan ini para operator justru menurunkan tarif serendah-rendahnya? Dengan adanya promo tarif murah tersebut, telah memacu masyarakat untuk berlomba-lomba mendapatkan tarif murah tersebut sehingga bisa diartikan bahwa operator-operator tersebut secara terang-terangan bersaing mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Belum lagi dengan promo tarif yang ada pun cenderung menyerang dan menjatuhkan para operator lain. Menurutku, hal merupakan suatu persaingan tidak sehat. Selain itu, dengan meningkatnya jumlah pelanggan seluler, bukan berarti bahwa para operator telah siap untuk menghadapi jumlah pelanggan yang semakin banyak. Para operator hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan kepuasan pelanggan. Mereka lebih mementingkan sisi kuantitas daripada kualitas yang berarti mereka mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan sisi kepuasan konsumen dalam hal kualitas pelayanan telekomunikasi seperti jaringan, koneksi, dan lain sebagainya. Banyak sekali kasus pelanggan yang dirugikan seperti tidak bisa menghubungi pelanggan lain baik itu sesama operator maupun lintas operator. Dengan adanya persaingan tidak sehat tersebut, jelas terlihat bahwa mau tidak mau masyarakat telah menjadi korban dari persaingan dan ketidak siapan para operator seluler.

Jadi, apakah tindakan KPPU bisa dikatakan terlambat mengingat hal ini telah berlangsung cukup lama? Bisa iya, bisa juga tidak. Bagaimana para operator tersebut membungkus dan menyajikan tarif tersebut benar-benar membuat seolah-olah seperti tidak ada persaingan di antara mereka. Tapi apakah KPPU hanya menindak penyeragaman tarif sms? Kenapa persaingan tarif telepon tidak ditindaklanjuti? Lalu, bagaimana dengan konsumen itu sendiri? Apakah ada perlindungan terhadap konsumen yang dirugikan karena ketidaksiapan operator (bukan hanya dari sisi uang saja)? YLKI pun akhirnya turun tangan melihat situasi ini. YLKI menyarankan kepada masyarakat bahwa masyarakat bisa melakukan “class action”. Saat ini, YLKI menyatakan bahwa banyak konsumen yang merasa dirugikan karena komunikasi mereka ke berbagai pihak terganggu, sulit untuk dilakukan dan bahkan banyak yang tidak berhasil karena ketidak siapan operator. Ada satu contoh kasus dari seorang temanku, ketika dia hendak menelpon temannya, untuk bisa terkoneksi saja butuh waktu lama. Belum lagi dengan promo para operator yang menyatakan tarif murah, tapi tetap saja temanku kena mahal padahal cuma menelpon selama kurang lebih 20 detik. Temanku pun sebal karena selain koneksi yang lama dan sering gagal, dia juga merasa tertipu dengan adanya promo tarif murah tersebut. Coba bayangkan, kasus tersebut tidak hanya terjadi pada satu orang di Indonesia tapi terjadi di sebagian besar pengguna telekomunikasi seluler. Buat KPPU, YLKI dan pemerintah terutama, lindungi lah konsumen yang sebagian besar adalah rakyat Indonesia ini.

Jika saja pemerintah mengatur telekomunikasi seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Prancis, bisa jadi tidak ada masyarakat yang dirugikan. Meski pun bukan jaminan, mestinya hajat hidup orang banyak tetap diatur dan dikontrol oleh pemerintah. Jika komunikasi menjadi lancar dan tidak ada yang dirugikan, pasti perkembangan telekomunikasi di Indonesia bisa lebih baik lagi.

Sistem Pendidikan di Indonesia

Pertengahan Juni adalah waktu pelaksanaan pengumuman kelulusan sekolah, saat di mana para pelajar di seluruh Indonesia menanti dengan harap-harap cemas apakah mereka lulus atau tidak. Sesaat setelah diumumkan, banyak di antara mereka yang senang setelah mengetahui bahwa mereka lulus. Tapi ada juga sebagian dari mereka yang sedih dan kecewa setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lulus. Mereka yang lulus, sebagian berpesta dengan turun ke jalan mengenakan baju sekolah mereka yang telah dicorat-coret.

Tiap tahun, standar nilai kelulusan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dari dulu yang cuma 3,00, sekarang jadi 6,00. Bahkan pemerintah berencana akan meningkatkan standar nilai kelulusan pada tahun ajaran mendatang. Bisa jadi tingginya standar nilai kelulusan yang diberikan telah membuat sebagian siswa tidak lulus. Tapi, kalau memang begitu, hal ini patut dipertanyakan. Seorang siswa SMU di Surabaya yang pernah mengharumkan nama bangsa kita ini dengan menjadi juara olimpiade fisika (sebut saja Dee) justru tidak lulus. Aku yakin dengan kemampuannya yang seperti itu, Dee bisa melalui semua ujian dengan baik. Tapi kenapa Dee tidak lulus?

Kegagalan Sistem

Bisa jadi itu semua karena adanya ketidaksiapan salah satu bagian sistem pendidikan. Untuk dapat lulus, seorang siswa harus menempuh 3 ujian nasional dengan materi yang diujikan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Dengan kemampuannya logikanya, aku yakin semua itu bukan masalah bagi Dee. Tapi kok bisa Dee gak lulus? Sistem ujian yang sekarang jauh berbeda dengan sistem terdahulu. Dulu, untuk ujian belum ada yang namanya pemeriksaan jawaban ujian pakai komputer. Semua pengkoreksian diperiksa secara manual. Bentuk soal yang diberikan pun ada 2 macam, pilihan ganda dan uraian. Sekarang, semua serba komputer. Dikoreksi dengan menggunakan komputer. Karena dikoreksi dengan komputer, semua soal pun berbentuk pilihan ganda. Pemeriksaan dengan komputer dilakukan untuk memudahkan pengkoreksian. Untuk itu, semua peserta ujian diharuskan menggunakan pensil 2B untuk mengisi jawaban.

Jika Dee yang notabene adalah seorang siswa juara olimpiade fisika tidak lulus ujian nasional, bisa jadi Dee telah menjadi korban kegagalan sistem. Sistem yang ada sekarang tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apa pun. Coba bayangkan, bisa jadi ketika Dee mengisikan jawaban, mungkin ada beberapa bagian yang tidak jelas sehingga pada saat diperiksa oleh komputer tidak terbaca. Padahal jika dikoreksi manual bisa jadi Dee lulus. Selain itu, jika ada soal dengan bentuk uraian, bisa jadi Dee mendapat nilai bagus karena kemampuan logikanya. Penilaian soal uraian lebih kepada pendekatan logika, bagaimana cara seorang siswa memecahkan kasus. Jika kita menjawab salah di bagian ini, kita masih mendapat nilai jika jalannya logika kita itu benar meskipun ada kesalahan jawaban karena ketidaktelitian. Semestinya, para penilai ujian jangan dibuat malas dengan adanya penggunaan komputer. Sistem memang dibuat untuk memudahkan, tapi bukan dibuat untuk memanjakan. Semestinya, setelah diperiksa oleh komputer, para pengkoreksi tetap melakukan pengecekan manual untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan hasil koreksi komputer sekecil apapun. Jika hal tersebut dilakukan, mungkin cerita tentang juara olimpiade fisika tidak terjadi. Aku sendiri lebih setuju dengan penggunaan sistem lama karena selain tidak ada kesalahan pengkoreksian akibat komputer, sistem lama tersebut juga lebih mengetahui kemampuan logika seorang siswa. Dibandingkan dengan sistem yang sekarang, pendekatan terhadap logika tidak ada sama sekali, bahkan bisa dibilang seseorang yang mestinya tidak lulus (karena memang dengan kemampuannya) karena seharusnya dia mengulang pembelajaran justru lulus karena keberuntungan. Coba bayangkan nasibnya ketika dia meneruskan pendidikan ke tingkatan yang lebih tinggi, dengan kemampuan logikanya, kasihan anak tersebut.

Standar kelulusan semestinya bukan hanya dari 3 mata pelajaran yang diujikan, tapi lebih kepada kemampuan siswa tersebut. Sistem pendidikan yang baik adalah sistem yang mengerti kemampuan sorang siswa itu sejauh apa dan diarahkan sesuai dengan kemampuannya. Standar kelulusan yang baik mestinya memperhatikan kemampuan siswa tersebut. Jika selama masa pembelajaran, dia memang tertinggal, mestinya dia jangan diluluskan karena kasihan dia nantinya. Biarkan dia memperdalam kemampuan logikanya terlebih dahulu. Jika ada seseorang yang pada saat ujian tidak lulus salah satu mata ujian, jangan diambil kesimpulan bahwa dia bodoh & tidak lulus. Coba lihat kasus Dee, masa tidak lulus padahal Dee punya kemampuan luar biasa yang telah mengharumkan bangsa kita ini dengan kemampuannya. Jika kelulusan hanya dilakukan berdasarkan 3 mata ujian tersebut, buat apa kita selama sekolah mempelajari banyak mata pelajaran? Mata pelajaran tersebut bertujuan untuk mengasah kemampuan logika dan mengetahui bakat seorang anak. Mestinya, ujian nasional yang menitikberatkan pada 3 mata ujian tanpa memperhatikan kemampuan siswa tidak pernah ada. Sistem yang seharusnya adalah bahwa sistem kelulusan ditentukan berdasarkan kemampuan dan potensi siswa tersebut. Jika memang ada ujian nasional, mestinya ujian nasional tersebut adalah ujian untuk semua mata pelajaran wajib dan juga menitik beratkan kepada kemampuan siswa.

Dengan sistem ujian dan kelulusan yang seperti itu, berarti jelas-jelas tidak sesuai dengan kurikulum yang ada saat ini yaitu kurikulum berbasis kompetensi atau disebut juga dengan KBK. KBK lebih menekankan pada pengembangan kemampuan siswa. Jika memang begitu, semestinya ada perubahan besar yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan pemerintah untuk menyikapi sistem pendidikan yang ada. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah sistem ujian dan standar kelulusan. Jangan sampai ada kasus seperti Dee lagi.

Lalu, bagaimana dengan nasib siswa yang tidak lulus? Banyak di antara mereka yang mengambil ujian kesetaraan atau kejar paket. Akan tetapi, bagi siswa SMK yang tidak lulus, sepertinya hal itu sulit untuk dilakukan. Pihak SMK melarang siswanya ikut ujian penyetaraan / paket karena banyak materi ujian yang tidak mereka dapatkan selama di SMK. Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan SMK. Akan tetapi, apakah pihak pemerintah itu sendiri telah siap menghadapinya? Lalu, bagaimana nasib para penerus bangsa kita? Sepertinya ada banyak PR yang harus dikerjakan oleh pemerintah untuk mata pelajaran pendidikan. Semoga PR tersebut bisa diselesaikan dengan baik dan pendidikan di Indonesia bisa lebih baik lagi serta mampu mencerminkan kebudayaan bangsa Indonesia. =)

Senin, 09 Juni 2008

Kok Cuma Segitu?

Mulai tanggal 24 Mei 2008 pukul 00.00, harga BBM naik. Dari premium yg semula hanya 4500, jadi 6000 rupiah. Solar dan minyak tanah juga naik. Tapi kok cuma segitu ya naiknya? Asem ik, tiwas tak kira lebih mahal lagi. :'( Lhoh, kok aku malah sedih?Yaaaa, karena naiknya cuma segitu. Mbok ya seliter tu jadi 10000 ato 12000 gitu, asem ik. Gara-gara komentarku itu, ada yang menganggap kalau aku tu sombong / sok kaya / gak peduli ama bangsa ini / apa lah itu. Wew, kasian banget ya aku? (O_o)

Aku punya alasan tersendiri mengapa aku bisa berkata begitu padahal aku sendiri juga jadi berkurang uang sakunya secara gak langsung (coz buat beli bensin). Dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang, Australia dsb, harga Bensin di Indonesia termasuk murah (sekali). Di Jepang, harga bensin per liter adalah 12000. Di Australia, harga bensin di tiap pom bensin bisa berbeda-beda. Negara kita memang tidak bisa disamakan dengan negara maju, dari segi sosialita, ekonomi, dsb, negara kita jelas tidak bisa disamakan. Tapi, kenapa aku justru berharap harga BBM jadi mahal?

Pengurangan subsidi BBM dengan menaikkan harga BBM karena harga minyak dunia yang semakin menggila, selain untuk mengimbangi APBN dan menutup hutang masa lalu, adalah untuk menyebar pemerataan subsidi pada berbagai bidang seperti pendidikan & kesehatan. Meskipun belum terasa secara signifikan perubahan yang terjadi di bidang itu, ada efek jangka panjang yang aku yakin bisa membuat mental bangsa ini jadi lebih maju. Dengan kenaikan harga BBM, secara tidak langsung akan membuat rakyat tidak manja dan semakin berusaha untuk menjadi lebih mandiri. Justru hal ini lah yang semestinya disikapi dengan baik oleh rakyat karena banyak sekali pelajaran yang kita dapat dari situ.

Harga BBM yang semakin melambung tinggi adalah akibat dari semakin menipisnya persediaan minyak di dunia. Diperkirakan persediaan minyak dunia akan habis dalam kurun waktu 16 tahun. Semakin langka barang, semakin mahal harganya. Minyak sebagai sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui pasti akan habis suatu waktu dan tidak akan ada lagi gantinya. Hal tersebut kemudian merangsang orang-orang dari seluruh dunia untuk berlomba-lomba melakukan penelitian tentang kemungkinan sumber energi alternatif yang tidak akan pernah habis. Aku yakin impian manusia akan tercipta, semua tinggal menunggu waktu. Seperti orang2 zaman dulu yang bermimpi bisa piknik ke bulan & akhirnya sekarang bisa terwujud, aku yakin kita bisa menemukan alternatif energi demi kelangsungan kehidupan di dunia ini. Aku yakin kalau impian kita sebagai umat manusia untuk mendapatkan sumber energi alternatif yang tidak akan pernah habis akan tercipta. Sudah banyak penemuan yang mampu menghasilkan sumber energi alternatif seperti bio diesel dan bahkan ada yang mampu menjadikan air sebagai bahan bakar pengganti minyak. Semua itu adalah respon dari menipisnya persediaan minyak bumi di dunia. Di suatu daerah di Jawa Tengah bahkan telah ditemukan sumber energi alternatif dari singkong dan telah terbukti mampu menggantikan bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Jika saja pemerintah mengetahui hal ini dan membantu pengembangannya, tidak menutup kemungkinan bahwa home industry tersebut bakal menjadi solusi masalah minyak di dunia.

Selain itu, konsumsi BBM pada industri dan kendaraan juga menyebabkan berbagai macam polusi di dunia ini. Limbah2 yang dihasilkan turut berpartisipasi dalam pemanasan global yang semakin parah dari waktu ke waktu, mengakibatkan prakiraan cuaca dan perubahan iklim tidak dapat dipastikan secara pasti. Jadi, diharapkan dengan naiknya harga BBM, mampu menekan masyarakat untuk minimal mengurangi pemakaian kendaraan pribadi yang berarti pengurangan polusi. Dengan begitu, meskipun hanya sedikit-sedikit, kita bisa turut berpartisipasi dalam menghadapi pemanasan global.

Saat ini efek yang paling terasa dari kenaikan BBM adalah kenaikan harga barang-barang kebutuhan. Para pedagang di pasar mau tidak mau harus menaikkan harga barang dagangannya mengingat biaya untuk pengiriman stok barang juga jadi lebih mahal karena naiknya BBM. Ini ada contoh sederhana yang sering terjadi di kalangan anak kos. Kalau dulu, duit 5000 udah bisa makan ayam goreng mpe puas plus es teh dan sisa duit di dompet itung-itung bisa dipake buat tambah-tambahan nraktir pacar. Tapi sekarang, duit segitu cuma bisa buat beli makan nasi + telur & tempe penyet, belum termasuk minum (seret dong). Boro-boro mau nraktir, duit aja nge-press, mau nabung juga gak bisa. Lha piye jal?Fang sing sing. F(*^%(*^&^.

Menurut kabar, harga BBM bakal dinaikkan lagi. Dari semula premium yang 6000 bakal jadi 7500. Hal ini memang sudah direncanakan oleh pemerintah agar rakyat tidak manja dengan harga 6000 per liter. Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk mencegah adanya kemarahan (lagi) setelah rakyat tenang-tenang saja (alias manja) dengan harga 6000. Jadi, harga BBM harus buru-buru dinaikkan mengingat harga minyak dunia yang makin lama makin naik. Sebuah tindakan preventif yang menurutku cukup bagus dilakukan oleh pemerintah. Sebab kalau tidak dinaikkan dari sekarang, nanti rakyat justru akan terbiasa untuk manja.

Hmm, tapi kenapa sejak saat ini justru pemerintah membagikan BLT (Bantuan Langsung Tewas?) buat rakyat miskin? Bukannya itu sama saja dengan memanjakan rakyat miskin? Sebenarnya, BLT adalah pancingan yang diberikan oleh pemerintah agar rakyat jadi lebih maju lagi. Ya, diharapkan rakyat mampu mengatur uang tersebut untuk dikembangkan agar kehidupan mereka jadi lebih baik lagi nantinya. Selain itu, ini juga sebagai bukti dari pelaksanan UUD tentang pemeliharaan rakyat miskin oleh negara. Well, semoga saja sasaran pemerintah ini tepat sasaran, amin. =)

Yup, kenaikan BBM telah banyak mempengaruhi berbagai sektor kehidupan. Termasuk sektor jajanku. :’( Biar pun aku sekarang jadi jarang jajan, tapi sekarang aku jadi belajar buat berhemat. Sekarang tu, kudu pinter2 ngatur keuangan & cari duit kalo pengen survive. Tapi tetep aja aku sering kehabisan uang ibarat peribahasa: sepandai-pandainya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Meskipun aku bisa untuk mengurangi jatah jajanku, tapi kalau ngliat serial komik baru yang aku suka ato buku bagus di toko buku, pasti langsung aku beli. Wkwkwk, ya piye ya? Udah hobi sie, hohoho. =)