Selasa, 23 September 2008

Beasiswa & Kapitalisme

Sebagai seorang mahasiswa, aku banyak mengamati papan pengumuman yang ada di kampus karena di kampusku semua informasi diumumkan di papan pengumuman termasuk jadwal kuliah, pengumuman penting dari universitas sampai ke informasi beasiswa & informasi kerja. Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiranku yaitu tentang informasi beasiswa. Beasiswa? Kenapa dengan beasiswa? Well, aku merasa ada semacam bumbu kapitalisme yang sangat kental terasa di dalamnya. Lha kok iso to,dab?!

Ada 2 macam beasiswa yang aku lihat, yaitu beasiswa yang diperuntukkan bagi semua orang dan yang tidak buat semua orang. Kebanyakan beasiswa tersebut diberikan oleh perusahaan-perusahaan korporat yang bekerja sama dengan universitas atau lembaga setempat. Di dalam tulisan ini, aku mengartikan semua orang dengan semua mahasiswa. Tipe beasiswa pertama yaitu beasiswa bagi semua orang. Kenapa bisa kukatakan sebagai beasiswa untuk semua orang? Karena di situ tidak tertera syarat berupa “bagi orang yang tidak mampu”. Dalam hal ini, berarti orang yang “tidak mampu” pun bisa ikut berpartisipasi dalam program beasiswa tersebut asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Tipe beasiswa kedua yaitu beasiswa tidak untuk semua orang atau kasarannya beasiswa bagi yang miskin. Maaf kalau mungkin agak kasar. Well, aku melihat di dalamnya ada persyaratan bahwa bagi yang ingin berpartisipasi harus menyertakan surat tidak mampu dari kelurahan setempat. Yang terjadi ketika kita mengurus surat keterangan tidak mampu adalah surat yang keluar tertulis surat miskin. Hwalah, dapet BLT dong mestinya, hohoho. Sebuah parodi, beasiswa bagi yang tidak mampu alias miskin tapi kok yang miskin bisa kuliah ya? Mestinya kalau dia memang miskin, dia tidak mampu untuk kuliah karena saking miskinnya. Biaya masuk universitas saja sudah mahal, orang miskin mana yang bisa membayar uang sampai berjuta-juta sementara untuk makan sehari-hari saja susah. Banyak orang miskin yang tidak bisa kuliah, jadi mestinya jika perusahaan-perusahaan korporat yang memang “niat” untuk memberikan bantuan beasiswa, bantu lah orang-orang miskin yang benar-benar tidak mampu bersekolah agar mereka bisa menuntaskan program belajar 9 tahun.

Coorperate Social Responsibility

Coorperate Social Responsibility (CSR) adalah tanggung jawab perusahaan dalam segi sosial. Perusahaan sebagai tempat para kapitalis mengeruk keuntungan bertujuan untuk terus mengeruk keuntungan dan apabila hal itu terus dilakukan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, opini masyarakat yang terbentuk adalah bahwa perusahaan korporat hanya mementingkan kepentingan perusahaan. Untuk itu, perusahaan juga memiliki program untuk membangun image sosial di masyarakat. Beberapa cara yang sering dilakukan adalah dengan melakukan bakti sosial, bazaar murah, program beasiswa, dsb. Sebenarnya, hal tersebut merupakan suatu bentuk kapitalisme yang tidak disadari oleh banyak orang. Tanpa kita sadari, saat ini kita sendiri sedang hidup di zaman kapitalisme di mana secara tidak langsung merupakan suatu bentuk neo kolonialisme(?).

Unsur Kapitalisme

Dari semua penawaran beasiswa yang aku lihat, seperti XYZ foundation atau apa pun itu, terlihat bahwa mereka menawarkan brand perusahaan dalam menawarkan beasiswanya. Hal yang lumrah dilakukan agar nantinya orang yang ingin berpartisipasi di dalamnya mengetahui tentang siapa pemberi beasiswa tersebut. Akan tetapi, unsur lain yang kulihat adalah adanya promo perusahaan terkait. Mestinya jika memang ingin menawarkan beasiswa, harus lah berbentuk charity tanpa ada unsur kapitalisme. Kenapa bisa terlihat unsur kapitalisme? Karena dengan adanya promo perusahaan pemberi beasiswa tersebut, terlihat jelas adanya unsur kapitalisme. Dengan adanya beasiswa itu sendiri, sebenarnya suatu perusahaan sedang mempertahankan mesin kapitalisnya untuk terus berproduksi. Di dalam kapitalisme, sebuah aset perusahaan disebut dengan mesin kapitalis di mana untuk membuat mesin tersebut diperlukan banyak elemen. Tujuan utama dari pembuatan mesin tersebut adalah untuk menghasilkan “produk” yang diinginkan oleh perusahaan. Jika satu saja elemen di dalam mesin tersebut rusak, misalnya baut, produk yang dihasilkan bisa saja tidak seperti yang diharapkan. Untuk itu, diperlukan regenerasi dan perawatan terhadap setiap elemen mesin tersebut. Ambil contoh, suatu perusahaan memberikan beasiswa kepada seorang mahasiswa sampai mahasiswa tersebut lulus S2. Setelah mahasiswa tersebut menyelesaikan pendidikannya, perusahaan pemberi beasiswa tersebut merekrut mahasiswa tersebut untuk bekerja di perusahaan tersebut. Dalam hal ini, perusahaan tersebut mencari “baut pengganti” untuk mesin kapitalisnya agar produk yang dihasilkan tetap konstan dan bahkan mungkin lebih baik lagi.

Seandainya beasiswa tersebut diberikan dalam bentuk charity kepada orang-orang tidak mampu di luar sana supaya bisa menyelesaikan wajib belajar 9 tahun, mungkin baru bisa benar-benar dikatakan beasiswa. Buat semuanya, bantu lah pemerintah menyukseskan program wajib belajar 9 tahun. Kalau bukan kita yang mencerdaskan bangsa, siapa lagi? =)

Tidak ada komentar: